CABRIK ( catatan buruh pabrik )
Pagi ini sangat lengang pukul 9:43,.
Susana pabrik sangat lengang. Para buruh pabrik sudah mulai berhenti bekerja
untuk sementara karena sepinya transporter yang biasa mengangkut muatan hari
ini, namun berbanding terbalik dengan suasana diruangan kerjaku ini berbagai
macam suara bergantian dari suara printer, suara telpon berdering, suara aungan
hardisk komputer yang usianya jauh lebih tua dari keponakanku, dan sungguh ini
terdengar seperti suara pria besar menangis sejadinya setelah ditinggal
istrinya main serong, dan satu lagi. Suara musik remik yang sangat mengganggu
dari ruangan bos kantorku, rasanya membawaku kedalam lingkaran orgen tunggal,
yah! memberikan sensasi
berada dilingkaran
saiton, inilah yang kadang bisa memicu stres dilingkungan kerja, belum ditambah
teman yang kadang menyebalkan, atau membayangkan ada rekanan membawa anaknya
yang nakalnya minta ampun dilingkungan kerja, atau pelanggan yang resek, tapi
yakinlah itu semua bisa diredam oleh sentuhan lagu-lagu semakbelukar yang bisa
memberi energy positif, ya... setidaknya menghindari stress berlebih yang
memicu hipertensi tingkat tinggi maaf jika ini terlalu hiperbola…
"siang yang panas itu sangat terasa aroma tubuh mereka(buruh)
yang busuk, wangi atau busuk setiap individu mungkin memiliki kebusukan hati,
meskipun tak semuanya berhati busuk."
Terdengar suara bisik-bisik pembicaraan dilobi kantor antara bos tua yang
cina, bos batak yang intelek dan dua bos jawa yang merupakan asisten dari bos
batak yang intelek.! banyak yang mereka bicarakan terutama bos batak yang
intelek. dengan nada yang pelan namun pasti sepertinya mereka sedang membicarakan
hal-hal yang lumayan tabu, labirin telingaku yang terjamah, mulai terusik sepertinya
obrolan yang menarik, dia itu sangat dominan dari semua "the bosgeng",
dia itu yang mana?, ya yang itu, bos batak yang intelek!, begitulah mereka jika
sedang
kumpul. Seperti gerombolan si
berat ditambah gufi yang tampak akrab, maaf jika ini juga terlalu hiperbola…
Dari suara-suara yang terdengar di telinga ku sepertinya dia membahas
sejarah kaum buruh yang selalu identik dengan sabda karl mark, menjelaskan isi
das kapital, pergesekan antara kapitalisme,sosialisme, komunisme dan isme-isme
yang membuat bos-bos lain hanya angguk-angguk,
iya-iya, geleng-geleng, kemudian sesekali ber dehemmmm, hmm, lalu hmmm dan
hmmmm lagi…berusaha mengimbangi. Aku kagum dengan pengetahuanya, wajahnya yang
begitu lugu dan terlihat jarang sekali bekerja berat itu ternyata pintar,
wajarlah jika iya mendapatkan posnya yang sekarang ini sebagai pengenyam
pendidikan tinggi dan meraih beberapa gelar sarjana berbeda sekaligus, jadilah
ia sebagai bos batak yang intelek!, sungguh wajar jika rambut dibagian tengah
kepalanya sudah mulai botak diusianya yang masih terlalu muda untuk memimpin
banyak kepala sekaligus.
akhirnya obrolan mereka mentok ditragedi'65, yang membuat bos-bos lain hanya
angguk-angguk,
iya-iya, geleng-geleng,
kemudian sesekali ber dehemmmm, hmm, lalu hmmm dan hmmm lagi… akhirnya obrolan
atau begesa panjang itu berlanjut ke semakin menjamurnya buruh-buruh disini
yang bergabung ke serikat buruh, aku berpendapat jika dia tidak menjadi bos di sini
mungkin dia akan menjadi ketua serikat buruh yang sedang ia dan "the
bosgeng" bahas sekarang!. ada banyak ketakutan dari mereka, si bos-bos
bersatu ini.
“Dipabrik
ini, mereka(buruh) sangat materialism dan bersifat sekuler wajar jika kaum
mereka(buruh) identik dengan komunism, namun aku pikir mereka ikut serikat
buruh bukan karna mereka komunis atau serikat buruh itu sarang komunis,
terlepas dari pembahasan yang membuat mual diatas, mereka(buruh) hanya berusaha
mencari perlindungan dengan bergabung ke serikat buruh agar hak-hak mereka
tidak di curangi oleh pihak pabrik,..”
Kisah
yang tak bisa diabaikan, dari balik jendela kasir…
Mungkin ini kisah yang masih lumayan hangat dikepala anee, semoga entee bisa
menikmatinya,
dikota ini lama bekerja tidak menjamin seorang buruh akan sejahtera, jika
ditanya pertanyaan kecil seperti, “
apakah
hidupmu sekarang lebih baik?,” jawabnya
“ya,
sedikit lebih baik dari orang yang kelaparan!.” dijawab dengan wajah tanpa
senyum.
Jika anda lapar, janganlah merebut hak orang, apalagi salah merebut hak
orang, apalagi jika orang yang kau rebut haknya itu pak Dailan, maka dia akan
menikam dubur
hingga menembus ke
kemaluan mu dengan badik berkarat yang kemana-mana dibawanya, pak Dailan itu seonggok
daging teraniaya, yang dua puluh tiga tahun menjadi buruh dan belum punya rumah
sendiri, potret menyedihkan dari buruh yang merupakan ujung tombak kemakmuran,
ironis, terlalu sering majas ini digunakan untuk merepresentasikan pahitnya
realita penyayat luka yang masih bernanah! Tuhan berkahilah pak Dailan.
Saat pertama kali aku berbicara dengan pak dailan ditempat yang sama,
dibalik jendela kasir. Kalimat pertama yang diucapkannya padaku adalah sebuah
pertanyaan.
”Apedio yang kau denger???.” Saat itu aku memang sedang mendengarkan lagu
melalui handphone ku. Kemudian kujawab,.
“Lagi nenger lagu pak, lagu the smiths.”
“Judulnyo apo?” Tanya nya lagi.
“Shakespeare’s sister” jawabku keras,
karena lagu yang kudengar bervolume lumayan tinggi. Kulepaskan headphone ku
sambil bertanya balik.
“Bapak tahu dan seneng the smiths ye?.”
“Idak.” Jawabnya datar, sambil memberiku surat pengantar pengambilan.
Tadinya aku berharap pak dailan juga tau dan menyukai the smiths, aku jadi
ingat kejadian di dua film. Yang pertama, seperti awal obrolan caharlie dan sam
difilm the perks of being a wallflower, yang ternyata keduanya juga penyuka the
smiths, saat sam bertanya pada Charlie lagu the smiths yang mana yang ia suka,
kemudian di jawab Charlie, asleep dari album lauder than bombs,. Atau
yang kedua difilm (500) days of summer ketika
itu dari dalam lift pada awal pertemuan summer dan tom yang juga dibumbui lirik
lagu the smiths there is a light that never goes out. Meskipun aku dan pak
dailan tidak seperti Charlie dan sam atau juga tom dan summer yang sama-sama
penyuka the smiths, setidaknya entah itu kebetulan atau bukan music bisa menjembatani
silaturahmi antar sesama manusia, ini semua sangat positif dan pada kejadian
yang kualami selama ini, itu semua melalui the smiths, aku makin mengilai music
juga the smiths.
Suatu ketika disaat semua masih menikmati cuti bersama setelah libur hari
raya kami para buruh sudah ada yang masuh kerja dikarenakan pabrik tempat kami
bekerja bergerak dibidang pelayanan public termasuk juga tempat pak dailan
bekerja.
Pagi itu pak dailan sudah marah-marah dia merasa tidak puas dengan perlakuan
bos dan juga tempat ia bekerja selama dua puluh tiga tahun. Aku sudah paham
betul dengan cara dan gaya bicaranya yang terkesan kencang dan memanaskan
suasana, dengan aksen khas dirinya yang kental.
“Bangsat, bos pabrik aku ni la gilo
nian!”
“Ngapo pak dai pagi-pagi la marah-marah ni?” Tanyaku sekedar basa basi,
karena setelah itu ia mulai dominan dalam pembicaraan ini.
“Cak mano dak kesel nak, saban waktu
ditelponi, dio tu bepikir akuni dak kerjo tula, padahal aku digudang tula
begawe bekeringet sampe ke sempak-sempak, dimato dio tu aku nila pembangkang, kapan
bae dio tu kulanjak ke dibelakang gudang.”
“sabar pak dai namonyo jugo kito begawe
samo uwong” coba menenangkan.
“Nak, kalo kau nak tau akuni la jenuh begawe lemak
la aku berenti bukak usaha dewek, la duo puluh tigo taun aku begawe dari jaman
si harto memerintah sampe si harto dikudeta, ruma dewek be aku dak katek, aku
la nemen nian buat ulah Cuma masih be dak diberentikenyo jugo.”
“ngapo pak dai dak ngunduri diri bae?”
memberikan saran.
“kalu aku ngunduri diri dio Cuma galak
ngenjuk tigo bulan gaji. Nangani dio be laju, kemaren be pas cuti bersamo aku
disurunyo masuk begawe tapi aku dak galak.”
“Ngapo kamu dak galak pak lumayan kan diitung lembur.”
Dijawab pak dai dengan mata melotot dan ngotot!
“Mahap bae, sehari lembur Cuma dibayar
Rp, 16.000, lemak aku dirumah be, ngumpul samo keluargo jarang-jarang ngabisi
waktu seharian samo anak bini.”
Ada benarnya juga apa yang dikatakan pak dailan, nominal Rp, 16.000/hari sangat
keji bila dibandingkan dengan kantor kami yang membayar lembur karyawan Rp,
18.425/jam angka yang sangat jauh berbeda, wajar pak dailan uring-uringan.
Mungkin organisasi buruh dipabrik tempat pak dailan bekerja tidak berjalan
seperti dipabrik tempatku bekerja, karna jika dipabrik kami setiap buruh
dibayar Rp, 16.000/hari, akan ada demo buruh besar-besaran, dimana sekte-sekte
buruh garis keras yang dipeyungi serikat buruh akan membuat the bosgang bersatu
uring-uringan
Pak dailan adalah potret melaratnya kaum buruh dinegeri ini. Potret perlawanan
seorang buruh yang tak didukung oleh lingkungan sekitaran pabriknya, maka saran
saya setiap buruh harus ikut serikat buruh biar perlawananya tak sia-sia
seperti pak dailan yang dua puluh tiga tahun menjadi buruh dan belum juga
memiliki rumah sendiri.
Akhir tahun menanti kenaikan upah minimum yang tak seberapa...
Komunis atau tidak, atheis atau bukan, peduli setan, yang ada dibenak
sekarang bagai mana memperoleh materi sebanyak mungkin setiap harinya demi asap
dapur yang mengebul bisa makan yang enak-enak hanya sehari dalam seminggu saja
sukur,. dipabrik materi lebih populer dari tuhan, lima hari mereka menyembah
materi dan hanya sehari menyembah tuhan. Akhir tahun adalah hal yang dinanti
selain mayday, karena berkaitan dengan hajat hidup kaum buruh(penetapan upah
minimum), akhir tahun juga jadi momentum untuk menyalurkan aspirasi buruh
melalui demonstrasi atas pemerintahan yang cenderung merugikan buruh dan itu
pasti seakan menjadi agenda wajib, kesejahteraan adalah masalah klasik se
klasik teori-teori karl mark, kultur komunis, sejarah proletar atau pun
mengenai sejarah pemberontakan kaum buruh, mengenai itu mungkin tidak semuanya
tahu, yang pasti menurut mereka(buruh) demi bertahan hidup, memberi makan anak
bini dengan cukup dan memberikan mereka kehidupan yang mendekati kata layak
itulah hal premier bagi mereka(buruh), masalah lain adalah hal sekunder atau
bahkan tersier titik
Kerja di pabrik berat jam kerja enam hari seminggu membuat kami
sering sakit...
Penyakit yang umum menyerang mereka(buruh), demam, mencret-mencret, stres,
yang paling parah mungkin nyeri tulang kambuhan bahkan hernia(kondoran) dan
jika buang air kecil sembarangan tanpa permisi mungkin bisa
kesurupan(tenggoran).
Bicara korporasi bicara kasta(hirarki) adalah buruh kasta paling
buncit.17:37 masih di sekitaran pabrik
Ada bos besar, bos kecil, personaliah, administrasi, mandor buruh, dan
mereka(buruh) yang paling buncit dipandang rendah, seperti sampah sekaligus
cikal bakal pembuat onar dipabrik, buruh hanya dipandang tenaga berupah rendah
yang tiada harga, buruh itu lusuh, kotor, kusut, urakan, bau atau apalah yang
mendekati kata hina, demi tuhan sungguh menyesakkan ketika mendengar
pembicaraan yang menyangkut hirarki antar manusia, padahal semua manusia sama,
sama-sama berak tai, sama-sama bisa depresi, sama-sama homo sepien dari
merangkak hingga berjalan tegak, sama-sama predator, yang berhati kotor.
Aku mulai gerah bila mendengar orang-orang dikantor mulai berbicara hal yang
berbau hirarki ketika membahas mereka(buruh),. kata-kata yang membuat kuping
nyeri seperti = "ingat kasta kalian lah!", "mereka bukan level
kita lah!",..
bukan hanya lewat perkataan saja dari gestur pun bisa terlihat ada
diskriminasi yang mereka tonjolkan, dari cara mata melirik dan memandang, atau
apalah dan aku muak,.
Hidup ini anugerah atau kutukan 14:10 dua jam setelah istirahat
siang
"Inspirasi ku banyak terbuang apa lagi dijam kerja, tapi bila
tidak kerja aku makan apa?, makan idealisme ku yang tak seberapa ini? bukankah
di berbagai kesempatan sudah kita bicarakan bahwa hal yang ideal tak selalu
sesuai dengan realita!, aku hanya mencoba realistis,.. ah sudahlah!",...
“Dimanapun kita bekerja pasti demi mencari uang, itulah tujuan utamanya,
kemudian masalah cocok tidaknya, nyaman tidaknya urusan belakangan,.”
Mendengarkan pembicaraan Rihaman dan sugian.
Bicara pekerjaan selalu bersinggungan
dengan pendapatan (upah), namun terkadang upah minimum tidak selalu sesuai
dengan kebutuhan yang diperlukan, tak jarang malah besar pasak dari pada tiang,
upah minimum yang payah membuat mereka(buruh) menjadi korban perbudakan di era
modern, apalagi dinegeri ini upah buruh sangatlah rendah, jika ingin mencari
buruh murah ya dinegeri ku ini!. budak dan buruh tidak jauh beda jika dizaman
dahulu kala budak hanya diberikan makan oleh tuanya tanpa upah/gaji, maka dizaman
sekarang buruh di bayar upah/gajinya oleh tuanya, dan hanya cukup untuk makan
bahkan tak jarang kurang, minus, kering, bokek, amsiong. Inilah kenyataanya,
jika tak percaya silahkan cari tahu, atau jadilah mereka(buruh),. mereka(buruh)
sekarang harus dituntut beradaptasi dengan kerasnya hidup, jam kerja yang
semula 8 s/d 9 jam bisa berubah menjadi 10 s/d 12 jam sehari, bekerja sambilan
ini/itu jadi pekerja serabutan semua hanya untuk bertahan hidup,. bisa makan
hari ini lebih penting dari pada memikirkan apa yang bisa dimakan besok atau
besok tidak makan sama sekali,. jika ada yang berkata hidup ini anugerah atau
kutukan, bagiku keduanya sangat masuk akal, dengan semua kondisi ini jangan
mimpi mereka(buruh) bisa liburan ke alaska!.
09:40 Bel coffee time berbunyi para buruh turun dan bermacam
ekspresi disana,...
Ada tiga bebunyian bel yang paling kami tunggu dipabrik, bel pulang, bel
istirahat, dan bel coffee time, beberapa tahun aku bekerja disini setiap
ekspresi wajah mereka(buruh) sangat menarik ketika setiap bel itu berbunyi,
ekspresi ceria seperti saling berkejaran dengan sesama mereka, bernyanyi dengan
nada yang tak enak didengar, berteriak teriak dengan jargon yang mereka
ciptakan dan sering mereka gunakan sesama mereka(buruh), yang lebih konyol lagi
meneriaki setiap perempuan yang sesekali lewat disekitaran pabrik secara
berbarengan dengan irama sama seperti paduan suara, mungkin itu cara mereka
melepas penat, agar tidak terlalu terbebani dengan pekerjaan mereka yang
sangat berat, aku menikmati keanehan tingkah laku mereka sambil sesekali
mengikuti ataupun tertawa kecil sendirian, satu hal lagi yang menarik, setiap
bel coffee time atau pun bel pulang, beberapa di antara mereka(buruh) pasti ada
yang membawa buah tangan berupa sebotol atau dua botol cairan kondensat yang
merupakan limbah buangan, setidaknya itu yang kuketahui dari mereka, kondensat
ini bisa jadi pengganti bahan bakar kendaraan bermotor, dan lebih ramah
lingkungan dibandingkan premium. setidaknya ini mengurangi beban ongkos
transport mereka(buruh), kemudian sisa upah yang tadinya dipakai untuk biaya
bensin bisa di alihkan untuk kebutuhan lainya. yaaa lumayan, kondensat gratisan
meringankan beban mereka(buruh), yang menghabiskan sisa hidup untuk bekerja
sebagai buruh murah dinegeri yang tidak menghargai rakyatnya sendiri. Namun
belakangan semuanya tidak berjalan seperti biasanya lagi, kondensat disita dan
dibuang karena ketakutan pabrik dengan adanya kasus pejabat pemerintah tentang
korup penyelewengan dana penjualan kondensat, orang besar berulah orang kecil
pun kena getahnya gara-gara kasus ini keceriaan mereka berkurang tungguan
bahan bakar gratisan setiap hari lenyap, aku
turut berduka.
11:10 Masih tentang hirarki terhadap buruh
"Berbanding terbalik dengan bos yang mengajukan pembelian mobil
baru yang langsung di acc pabrik, ketika buruh mengajukan pinjaman uang pada
pabrik kesan nya diperlambat padahal sangat butuh uang cepat, jika mereka tidak
kuat hati, bisa jadi gila atau jadi maling kecil untuk menambah pendapatan demi
menutupi upah kecil peilaku-perilaku tak adil yang harus mereka terima"
Tidak cukup hanya dengan jeratan ekonomi rakus yang menambah miskin kaum
buruh, akibat upah rendah, atau sistem outsourcing yang masih dipekai
dibeberapa pabrik, atau ke naifan buruh yang begitu saja dimanfaatkan bos-bos
licik untuk menghimpit nafas kaum buruh sehingga selalu jauh dari kata hidup
mewah bahkan layak,..
Aku berada diatas mimbar sambil melintiri kumis dengan jari tangan kanan,
sementara tangan kiri mantap memegang pinggang aku berbicara didepan vintage
microfon
"Aku skeptis apakah tuhan masih
layak dipercaya... apa dia sama saja dengan bos-bos yang selalu tak bisa
dipercaya." Dari sekitaran empat puluh orang yang duduk manis sambil
terdiam didepan mimbarku, ada seorang lelaki paruh baya berkaca mata hitam ala
Keanu reeves dan berkumis sangat tebal setebal pagar kabupaten seperti kata
seorang pelawak diserial aneka ria srimulat. Dia berdiri dan langsung bicara
dengan lantang…
“ Ya, tuhan memang telah mati.” Tahu
kah kalian ternyata pria itu F. Nietzsche
dan kemudian suara bel masuk membangunkan tidur singkat berisikan mimpi yang
hampir menobatkan ku menjadi ketua sekte aliran sesat dan secara langsung diresmikan
oleh Nietszche dan kawan-kawan.
Mulai ada buruh yang "bimbang",kejamnya hidup,..
Selama system ekonomi rakus dan opresif masih diterapkan oleh pemerintah dan
sektor-sektor ekonomi strategis dikuasai oleh infestor atau juga beberapa etnis
tertentu maka rakyat yang jadi korban, jangan heran jika rakyat pribumi akan
kehilangan tempat dan tersingkirkan dinegeri sendiri, ada kekecewaan terhadap
diri sendiri ketika memilih pemerintahan, keluar dari jurang militerisme dan
masuk ke mulut neo liberalism FUCK. Namun keputusan yang semuanya sudah
terjadi, sekarang tinggal menjalani semua ini dengan lapang dada dan tetap
semangat meski berat dan memang berat, karena itu semua berat badan pun turun
drastis.
Buruh
dibeberapa pabrik, berkisah singkat seputar hari-hari buruhnya
-
“kau lihat dia
kan kang. Itu si anu, dia sekarang punya mobil sendiri padahal dia buruh sama
seperti kita ya!”
Aku membicarakan si anu dengan teman yang lain lalu di jawabnya
“wajarlah jika dia punya mobil, dia lembur saban hari hingga larut malam sampai
jatuh sakit, dan aku hanya ambil lembur seadanya saja. Kau tahu kenapa?, bukanya
aku menolak rizki ataupun tak sanggup untuk lembur berat seharian hingga larut,
aku bisa saja mengikuti dia, tapi alasanku karena aku punya dua anak yang masih
kecil, jika aku lembur saban hari sampai larut, pergi ke pabrik dari rumah
pukul 06:00 pagi saat anak-anakku masih lelap tertidur dan pulang larut malam
jam 21:00 dari pabrik di tambah 15 atau 20 menit perjalanan sampai rumah. Dan
saat aku tiba di rumah kedua anakku pun sudah terlelap tidur, bisa kau
bayangkan bagaimana aku bisa kenal anak-anakku atau sebaliknya jika aku rutin
melakukan jam kerja ekstra demi mendapatkan sebuah mobil bekas dengan
mengorbankan kesehatan dan waktu kebersamaanku dengan anak-anakku. Aku tak
ingin mereka tak mengenaliku sebagai ayah. Lebih baik aku kehilangan waktu lembur
dari pada kehilangan waktu dengan anak-anakku.
Benar juga apa yang di katakan temanku, memang sesuatu hal yang bernama hidup
layak itu berbeda-beda menurut setiap orang, terlalu banyak hal yang relative
dihidup ini jadi tinggal kemana arah hidup kita, kita lah yang menahkodai.
-
Ada kasus lain dimana para buruh yang kebanyakan
terlalu takut untuk memperjuangkan hak mereka sehingga pihak pabrik dengan
kesewenanganya memanfaatkan kenaifan ini, banyak factor yang diantaranya
mungkin menurut perspektif saya dimana pengaduan dari beberapa teman yang juga
bekerja sebagai buruh :
1. Banyak buruh yang kurang berpendidikan sehingga kurangnya keinginan untuk
belajar mengetahui apa saja hak yang mereka miliki, kebanyakan dari mereka
hanya tau kewajiban mereka dipabrik tanpa mengetahui hak mereka yang semestinya
harus dipenuhi pabrik, bahasa biologinya tidak terjadinya simbiosis mutualism
sehingga sangat merugikan pihak buruh.
2. Ketakutan untuk berjejaring, berorganisasi atau berserikat. Ada yang
menganggap iuran rutin saat berserikat terlalu mahal, ada juga ketakutan dari
sebagian besar buruh disebuah pabrik untuk berserikat atau mengikuti
seminar-seminar yang mungkin sangat penting untuk mereka, mungkin ada pressing
dari pihak pabrik seperti jam kerja yang ketat juga ancaman yang bersifat
menekan, seperti cerita dari teman di bawah ini.
“Bang ada yang ingin aku
tanyakan. Kemarin kami disodori kontrak kerja, tapi ada beberapa poin yang
sepertinya merugikan kami(buruh). Semoga kau bisa memberi solusi”
“Mungkin aku hanya bisa memberi masukan, masukan serupa yang sudah kuberikan
beberapa kali ketika kau tanyakan sebuah solusi untuk masalah yang juga hampir
serupa, cobalah untuk berserikat, organisirlah rekan-rekanmu untuk ikut serikat
buruh karna itu sangat penting untuk melindungi hak-hak kalian, apalagi
ditempat kalian bekerja, pabrik yang penuh tipu daya.”
Percakapan melalui blackberry messenger ini baru dijawab lagi sekitar dua
puluh lima menit kemudian.
“Sebelumnya terima kasih untuk saranya
bang, mungkin sulit untuk mengordinir rekan sepabrik, karena mayoritas dari
mereka takut untuk gabung dengan serikat buruh, karena tekanan dari pihak
manajemen pabrik yang mengancam akan member sangsi bahkan sangsi pemecatan bagi
siapapun yang bergabung ke serikat buruh, mereka takut dipecat karena tak ada
keterampilan lain untuk dijadikan mata pencaharian.”
Saran yang aku berikan seperti serba salah untuk kondisi yang mereka
hadapi, terkadang masalah perut kosong yang harus terisi mengalahkan banyak
hal. Yah, begitulah kenyataan. Maka yang pasti ada banyak suara yang tak bisa
diabaikan.!
-
Pekerja perempuan tak jarang menjadi korban
kesewenangan pihak pabrik, secara kasat mata maupun terang-terangan ada saja
kelicikan para pemilik modal untuk mengeksploitasi kelemahan-kelemahan yang
dimiliki pekerja perempuan. Tanpa bermaksut membandingkan antara perempuan dan
laki-laki.
aku sedih mendengar cerita dari seorang temanku, yang tanpa ia sadari telah di
manfaatkan oleh perusahaan tempatnya bekerja, mungkin karena sifat
kepembangkangan perempuan lebih sedikit dari laki-laki maka kemudian sisi
lembut ini dimanfaatkan oleh perusahaanya untuk kepentingan mereka, terkutuk
sekali!
Sore itu disalah satu taman yang ada di kota ku, suasana yang temaram membuat
taman sore itu lebih mirip dengan taman mimpi buruk, karena kabut asap yang
beberapa bulan ini meracuni kami secara perlahan, semua ini akibat perusahaan
pembakar hutan yang biadab, inilah jika negeri dikuasai kapitalis rakyat kecil
seperti kami yang pertama kali menjadi korban, mereka menyetubuhi dan
menyodomimu sekaligus.
Karena suasana yang berkabut taman agak sepi, teman perempuanku tiba lebih
dulu, ketika dia bilang sudah tiba di taman melalui sms, kujawab sedang OTW
padahal aku masih di rumah. Dan aku baru tiba lima belas menit kemudian, saat kulihat
pertama kali ekspresi wajahnya agak manyun
“Apa kabar cin, sudah lama menunggu ya?.
Maaf aku terlambat.”
Basa basi akibat tak enak hati.
“Sudahla bang, pria memang tak pernah
tepat waktu.” Wajah manyun sambil mengangkat gelas kopi yang ada disampingnya
“Untung kopi ini manis, bisa menetralisir
bosannya menunggu!.” Tambahnya, dengan wajah ketus.
Setelah berbicara panjang lebar akhirnya dia bercerita tentang pekerjaanya dibulan
ini yang sudah menumpuk, demi menggantikan pekerjaan temanya yang sedang cuti
hamil dan harus diselesaikan akhir bulan itu juga bisa dibilang dead line lah.!
Kenyataan itu yang menuntutnya harus mengerjakan pekerjaanya sesempat mungkin
dan diwaktu-waktu apapun tak jarang ia membawa serta pekerjaan itu ke rumah,
dalam imajinasiku itu terlihat seperti mengembalikanmu ke masa sekolah dulu,
mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan bu guru hot yang penampilanya lebih
mirip model majalah dewasa. Kalau seperti itu kenyataanya sih, terdengar lebih
menguntungkan, namun pada kenyataanya adinda kita yang satu ini sudah dirugikan
secara tidak langsung.
“Aku capek bang, akhir-akhir ini kerjaan
menumpuk, sampai harus ku kerjakan diluar kantor, termasuk dirumah pun aku
masih mengerjakan pekerjaan kantor.”
“Sampe lupa ngebedain antara rumah dan kantor ya cin, Hehehe penesan, becanda.”
“Nggak lucu bang, suwer.”
Campah anak muda.
“Ngerjain kerjaan sampai ke rumah dibayar
lembur nggak cin?”
“Nggak bang, nggak kepikiran juga, aku sih mikirnya dari pada ngerjain sampai
sore dikantor, mending dibawa kerumah bisa sambil santai gituh bang.”
“Wah harusnya pekerjaan yang dikerjakan setelah jam kerja selesai seharusnya di
hitung lembur cin, itu mutlak.”
Gayung pun tak bersambut, si adinda malah memilih untuk tidak menuntut
perusahaannya mengenai upah lembur yang seharusnya dia terima dari si
perusahaannya yang kurang asem ini, yaah begitulah perusahaan tidak pernah mau
rugi, seperti perusahaan pemilik lahan yang lebih memilih membakar lahan untuk
menghemat biaya dibandingkan menggunakan cara-cara yang lebih ramah lingkungan,
dan jadinya adalah bencana ekologi yang menyebabkan udara menjadi tak layak
lagi untuk di hirup, keserakahan itu memang kejam dan ini tak bisa dibiarkan.
Adam Sandro
(“Buruh memang terbiasa hidup dengan
upah minimum, yang mungkin Cuma mencukupi kebutuhan setengah bulan selebihnya
ngutang, jadi upah minimum jangan di buat lebih minimum lagi karna itu akan
berbahaya.”_15 Sept 15)